Delanggu bukan sekadar daerah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sejarah panjang dan penting tercatat di daerah ini. Klaten dijuluki gudang seribu mata air dan penyangga pangan dari daerah Jawa Tengah. Mata air, atau umbul dalam bahasa lokal, berasal dari melimpahnya aliran air bawah tanah lereng Merapi yang mengarah ke timur.
Tengah abad ke-18, Belanda membangun pabrik gula dengan kapasitas besar, salah satunya di Delanggu. Setelah sekian lama Pabrik Gula Delanggu berjaya, krisis malaise yang melanda Eropa pada tahun 1930 berdampak pada produksi gula yang berlimpah, namun tidak berbalas ketersediaan pasar yang memadai di Eropa. Tiga tahun krisis malaise berjalan, Pabrik Gula Delanggu pun akhirnya ditutup. Penanaman tebu dialihkan ke rami atau rossela, bahan baku utama pembuatan karung goni. Pabrik gula diubah menjadi pabrik karung goni yang kemudian berkembang menjadi sentra produksi karung goni terbesar se-Asia Tenggara.
Babak selanjutnya, Jepang mengganti perkebunan rami Delanggu menjadi pertanian padi. Bulir-bulir padi premium berbalut karung goni didistribusikan ke barak-barak tentara dan ketika pabrik karung goni dinasionalisasi pada tahun 1945, beras Delanggu kadung tenar di pasar-pasar seantero Nusantara, utamanya beras harum Rojolele. Hingga medio 80-an, nama beras Rojolele dari Delanggu adalah jaminan mutu beras berkualitas wahid.
Sejarah panjang pabrik tidak mungkin diluputkan dari sejarah manusianya, yaitu para buruh. Eksploitasi buruh tani di Delanggu tidak hanya terjadi di era kolonial. Pada tahun 1948, buruh-buruh tani Delanggu yang tergabung dalam Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) di bawah Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) melakukan mogok kerja terbesar dan terpanjang yang mewarnai sejarah awal pascakemerdekaan Indonesia. Mogok kerja sepanjang Mei hingga Juli 1948 ini mencuatkan nama Delanggu: daerah terpencil yang menggulirkan sebuah “masalah” nasional.
Ketika Orde Baru menjalankan Revolusi Hijau melalui program Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan menerapkan apa yang disebut dengan Lima Panca Usaha Tani (bibit unggul, pengolahan tanah, pemupukan, irigasi, dan pemberantasan hama), para petani “dipaksa” menggunakan pupuk kimia – yang di kemudian hari terbukti memakan habis hara tanah – dan menanam bibit “unggul” – yang menyingkirkan varietas bibit lokal, termasuk bibit Rojolele yang masyhur. Menurut Eksan, kini Rojolele sekedar cap di karung, mengandung beras yang bukan beras dari bibit Rojolele asli.
Tumpukan masalah pertanian di desa kelahiran, membuat Eksan yang juga petani, menjadi gundah. Bara api aktivis yang ia tempa selama menjadi buruh pabrik, membuncah. Ia menyaksikan bagaimana mayoritas penduduk desanya adalah buruh lahan yang tak bermodal selain otot serta keringat. Regenerasi mandek, karena pemuda macam dirinya lebih memilih minggat untuk menjadi buruh di kota besar. Serakan sejarah kejayaan Delanggu yang ia baca, menghantui dirinya setiap saat.
Gagasan yang diejawantahkan dalam bentuk Sanggar Rojolele. Berbagai program pendidikan dilakukan melalui metode kerja kreatif, salah satunya penyelenggaraan Festival Mbok Sri. Festival ini menjadi sarana komunikasi warga Delanggu, untuk kembali menguatkan identitas kultural mereka.
Bukan usaha yang mudah, tak ada jalur bebas hambatan. Perlahan, kepercayaan warga akan media festival sebagai ruang silaturahmi menguat. Tidak ada skema yang canggih, semua dijalankan sesuai takaran kemampuan. Lebih jauh lagi, tidak mengingkari jati diri sebagai petani. Papat tancep, wolu mupur, rolas ngesat, nembelas nembe tukule bakal las. Terjemahan bebasnya: semua butuh proses.
