Usai Idul Fitri Warga Delanggu Klaten Gelar Adang Kupat Secara Massal

1–2 minutes

METROPOS.ID || KLATEN – Warga Dusun Kebonsari, Desa Delanggu, Kec. Delanggu, Klaten menggelar adang kupat (masak ketupat) massal, Kamis (26/3/2026). Tradisi memasak bersama itu digelar dalam rangka tradisi Bakdo Kupat yang dilaksanakan tujuh hari setelah Idul Fitri 1447 H/ 2026.

Pembuatan ketupat adalah para sesepuh dusun. Setelah itu dilanjutkan pembuatan ketupat bersama, setelah jadi dikumpulkan dan diisi beras. Ketupat yang sudah diisi beras kemudian dimasak bersama. Menggunakan sekitar 30 dandang (panci besar) ketupat dimasak menggunakan kayu bakar oleh para bapak dan ibu warga setempat.

Sesepuh Dusun Kebonsari, Suparno menjelaskan Adang Kupat merupakan rangkaian tradisi Bakdo Kupat setiap tujuh hari bulan Syawal. Tradisi itu juga untuk melestarikan nilai-nilai luhur Bakdo Kupat.

“Menurut Kanjeng Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, Kupat ini memiliki nilai filosofis sangat tinggi, Kupat artinya ngaku lepat atau mengakui kesalahan karena dalam hablumminallah dan hablumminanas, hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia tidak luput dari kesalahan-kesalahan sehingga momen ini untuk saling memaafkan,” jelas Suparno.

Diungkapkan Suparno, Kupat terbuat dari janur (daun kelapa muda) juga memiliki arti laku papat, empat laku untuk mencapai janur, sejatinya nur (cahaya hati) yang meliputi syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Tradisi itu sudah berlangsung di dusun sejak tahun 1950.

“Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1950, puncak acara besok kenduri ketupat dengan membaca doanya nabi Sulaiman karena warga disini petani dan peternak sehingga memohon diberikan rejeki melimpah. Meskipun ini tradisi tapi masih sesuai dengan ajaran Islam menjaga silaturahmi, saling memaafkan dan bergotong- royong,” ungkap Suparno.

Jumlah ketupat yang dimasak, kata Suparno sekitar 1.500 buah atau bahkan lebih. Ada tiga jenis Ketupat yang dibuat yaitu ketupat luar, Sinto dan tumpeng.

“Ada tiga jenis Ketupat yang dibuat yaitu ketupat luar, Sinto dan tumpeng, dibuat bersama, dimasak bersama, besok dikirab, didoakan dan dimakan bersama. Tadi juga ada pelatihan pembuatan ketupat diikuti generasi muda bahkan ada mahasiswa,” kata Suparno.

Eksan Hartanto dari Sanggar Rojolele, Delanggu menerangkan tradisi Adang Kupat sebagai rangkaian Bakdo Kupat sudah dilakukan turun temurun. Menurut sesepuh desa, tradisi itu ada sejak 1950.

“Sudah ada sejak 1950 dan masih bertahan sampai hari ini. Biasanya puncaknya H plus 7 setelah ldul Fitri, acara akan berlangsung dua hari dan hari ini Adang Kupat, besok kenduri kupat,” tutupnya. (kmit/red).

Sumber: metropos.id