FMS 2026

“Tatag Ngupaya, Jejeg Urip”

Memasuki tahun kesembilan, Festival Mbok Sri 2026 hadir sebagai manifestasi keberlanjutan dari perayaan sewindu “Seni Bertahan Petani” yang telah diteguhkan pada edisi 2025. Dengan tajuk khusus “Tatag Ngupaya, Jejeg Urip” (Teguh dalam Berupaya, Tegak dalam Hidup), festival ini melampaui sekadar keriaan budaya untuk menjadi ruang ruwatan sosial bagi masyarakat agraria di Sanggar Rojolele, Delanggu. Nilai filosofis Tatag mencerminkan semangat petani yang menolak menyerah di tengah ketidakpastian ekonomi dan minimnya dukungan kebijakan, sementara Jejeg merepresentasikan cita-cita hidup yang bermartabat dan berdaulat di atas tanah sendiri.

Kekuatan utama festival ini terletak pada transformasi warga desa dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek yang memiliki agensi penuh atas narasi dan pengetahuannya. Praktik gotong royong dihidupkan kembali melalui partisipasi aktif seluruh unsur masyarakat; mulai dari sepuh hingga pemuda, dalam mengelola dapur umum kolektif serta merancang instalasi panggung dari material lokal. Melalui ritual Wiwitan dan Kirab Budaya yang melibatkan warga secara langsung, masyarakat tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat relasi spiritual dengan alam sekaligus menjaga regenerasi petani muda melalui pendidikan budaya agraria yang konsisten.

Festival Mbok Sri hadir sebagai ruang alternatif yang menolak untuk menyerah. Ia tidak hanya menampilkan ritus tradisi seperti Wiwitan, namun juga merangkul beragam ekspresi: dari seni pertunjukan dan instalasi budaya, diskusi publik lintas generasi, pasar rakyat yang dikelola komunitas, hingga dapur kolektif dan program residensi seni. Semua kegiatan ini dirancang untuk memperkuat hubungan antara masyarakat, tanah, tradisi, dan masa depan pertanian berbasis komunitas.

Lebih dari sekadar panggung perayaan, Festival Mbok Sri menjadi ruang ruwatan dan ruang perlawanan—tempat di mana ingatan kolektif tentang hidup agraris dihidupkan kembali sebagai sumber kekuatan. Festival ini juga membuka ruang kontestasi wacana, mengajak publik untuk mempertanyakan: mengapa petani masih terpinggirkan dalam sistem pangan nasional? Bagaimana masa depan pertanian bisa digagas dari desa, bukan dari ruang birokrasi kota.

Program Festival 2026

Segera Hadir!