Tentang

Delanggu, sebuah wilayah di Klaten, telah lama hidup dalam bayang-bayang dunia perburuhan. Akibat kerasnya kehidupan sebagai petani, banyak orangtua lebih memilih anak-anaknya bekerja di pabrik ketimbang turun ke sawah. Sekolah pun cenderung mendorong murid untuk “pergi”, alih-alih mengakar dan memahami tanah kelahiran mereka sendiri.

Menanggapi kenyataan ini, Sanggar Rojolele hadir sebagai lembaga kolektif yang berdiri pada tahun 2016, diinisiasi oleh Eksan Hartanto dan sejumlah pemuda Dukuh Kaibon. Lahir dari pengalaman Eksan sebagai anak petani sekaligus buruh migran yang aktif di serikat pekerja, sanggar ini dibangun untuk menghidupkan kembali kebanggaan terhadap warisan agraria. Semangat kolektif menjadi dasar kerja mereka dalam membentuk ruang belajar, diskusi, dan pengorganisasian warga.

Seiring waktu, Sanggar Rojolele berkembang menjadi pusat kegiatan kultural dan sosial yang menumbuhkan solidaritas desa. Mereka menggelar pelatihan seni, jagong tani, koperasi warga, dan advokasi kebijakan desa. Program unggulan mereka, Festival Mbok Sri, menjadi panggung refleksi dan regenerasi budaya tani. Dengan kerja bersama, sanggar ini bermimpi menciptakan ekosistem pertanian desa yang mandiri, bermartabat, dan berbasis pengetahuan lokal.