
Delanggu, sebuah wilayah di Klaten, barangkali memang sudah lama akrab dengan kehidupan perburuhan. Akibat getirnya hidup sebagai petani, banyak orangtua di desa ini lebih memilih agar anak-anak mereka bekerja di pabrik ketimbang turun ke ladang. Sekolah-sekolah pun tak banyak memberi harapan lain—lebih sering mengajarkan “ilmu pergi” daripada mengajak mengenali tanah sendiri.
Dari latar itu, Sanggar Rojolele berdiri. Diinisiasi pada tahun 2016 oleh Eksan Hartanto—seorang anak petani yang sempat merantau selama delapan tahun menjadi buruh pabrik dan aktif di serikat buruh di Batam—sanggar ini lahir dari keinginan untuk “mbalikne rasa” masyarakat Delanggu terhadap budaya tani. Eksan dan beberapa pemuda Dukuh Kaibon mendirikan sanggar ini dengan semangat membangun kembali kebanggaan terhadap warisan agraria yang sempat hilang.

Awalnya, Sanggar Rojolele hanya membuka pelatihan tari untuk anak-anak sebagai cara sederhana menarik perhatian warga. Tapi seiring waktu, sanggar ini tumbuh menjadi ruang belajar bersama, tempat diskusi, serta wahana untuk mengorganisasi warga desa—khususnya soal pertanian dan kehidupan desa. Kini, mereka rutin menggelar jagong tani, belajar bersama seputar pertanian, dan memprakarsai gerakan koperasi hingga advokasi kebijakan desa.
Yang paling dikenal dari Sanggar Rojolele adalah Festival Mbok Sri, sebuah perayaan budaya tani yang digelar setiap tahun sejak 2017. Festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, tapi juga menjadi ruang refleksi, gotong-royong, dan kebangkitan identitas agraris Delanggu. Melibatkan banyak warga dari berbagai dusun, festival ini jadi momen penting untuk memperkuat solidaritas antarpetani, menginspirasi regenerasi tani muda, dan memperluas jaringan kerja lintas komunitas.
Mimpi besar Sanggar Rojolele adalah menciptakan ekosistem pertanian desa yang mandiri dan bermartabat. Fokus kerja sanggar meliputi:
- Regenerasi petani melalui pendidikan budaya agraria
- Pembentukan serta pengelolaan koperasi dan kelembagaan tani
- Inovasi sosial dan ekonomi berbasis pengetahuan lokal
- Produksi budaya yang berakar pada realitas masyarakat agraris
